September 25, 2020

Informasi Panduan Slot Online | Judi Bola | Togel DLL

Selamat datang di Generalchat, slot panduan informasi online, judi bola, kasino, togel. Pelaporan langsung, ulasan ruang poker online, tutorial strategi, freerolls dan bonus.

Sejarah Lahirnya Liga Europa

Sejarah Lahirnya Liga Europa - Pecinta Bola Wajib Dibaca

Awalnya, tajuk kompetisi ini adalah Piala Fairs. Kemudian, ia menjadi Piala UEFA dan hampir empat dekade berselang

Generalchat.org – Namanya pun berubah menjadi Liga Europa. Kata UEFA sebagai si empunya kompetisi, segala perubahan nama dan format ini dilakukan demi meningkatkan kualitas kompetisi. Dengan begitu, pemasukan pun bakal meningkat dengan sendirinya.

Jika Anda mengatakan bahwa segala hal yang berkaitan dengan kompetisi antarklub Eropa kini telah dikorup oleh kepentingan finansial, Anda salah besar.

Yang benar adalah, sudah sedari awal kompetisi antarklub Eropa, khususnya Liga Europa ini, didasari oleh semangat mencari uang.

Ada alasan mengapa cikal bakal kompetisi ini bernama Piala Fairs dan semua itu dimulai ketika Eropa sedang dalam spirit berbenah pasca-Perang Dunia II.

Kompetisi bernama lengkap Inter-Cities Fairs Cup ini usianya sama tua dengan Piala Eropa atau kini dikenal dengan nama Liga Champions. Kedua kompetisi tersebut sama-sama dimulai pada tahun 1955, atau persis satu dekade setelah Perang Dunia II usai.

Idenya saat itu berasal dari Ernst Thommen (Swiss), Ottorino Barassi (Italia), dan Sir Stanley Rous (Inggris). Tujuannya adalah untuk menyemarakkan pameran dagang (trade fairs) yang diselenggarakan oleh kota-kota di Eropa sana.

Sejarah Lahirnya Liga Europa sebelum Piala Fairs

Sebelum Piala Fairs mulai digulirkan, kota-kota penyelenggara pameran dagang sudah lebih dulu berinisiatif untuk melangsungkan pertandingan-pertandingan persahabatan antarsesama.

Thommen, Barassi, dan Rous melihat ini sebagai ladang peluang dan mengingat ketika itu pameran dagang sedang gencar-gencarnya di mana pertandingan sepak bola pun secara otomatis menjadi banyak, mengapa tidak sekalian saja dibuatkan kompetisi?

Awalnya, mereka yang boleh ikut hanyalah tim-tim dari kota yang menyelenggarakan pameran dagang saja, tak peduli di peringkat berapa tim-tim itu mengakhiri kompetisi liganya.

Sejarah Peraturan Liga Europa

Akan tetapi, setelah 13 tahun berjalan dengan konsep demikian, aturan pun diubah:

Hanya tim runner-up liga saja yang boleh mengikuti turnamen ini untuk menjaga kualitas kompetisi.

Konsep ini sempat berjalan selama tiga tahun sebelum akhirnya UEFA mengkooptasinya (setelah melihat perkembangan jumlah tim peserta, dari awalnya 11 tim menjadi 64 tim) dan mengubah nama kompetisi ini menjadi Piala UEFA.

Aturannya pun sama: hanya runner-up yang boleh ikut dan itulah yang membuat gengsi kompetisi ini dulu begitu tinggi.

Mengingat tingginya kualitas kompetisi ini pada zaman dulu, bagi klub-klub seperti Real Madrid, Liverpool, Juventus, Bayern Muenchen, atau Ajax, menjuarai ajang ini bukanlah sebuah aib, seperti yang diutarakan Jose Mourinho empat tahun silam.

Boleh dibilang, kualitas kompetisi ini tak jauh berbeda dengan apa yang kita lihat di Liga Champions sekarang ini.

Akan tetapi, ini semua berakhir pada tahun 1980 ketika koefisien UEFA mulai diperkenalkan. Sejak itu, tidak hanya runner-up saja yang bisa mengikuti kompetisi ini. Berapa jumlah tim yang berhak ikut tergantung dari peringkat sebuah negara di koefisien UEFA. Format ini sendiri bertahan sampai akhir dekade 1990-an.

Setelah 1997/98 UEFA memutuskan bahwa klub peserta Liga Champions tak hanya lagi para juara saja melainkan juara plus runner-up, dua tahun kemudian UEFA pun kembali mengubah aturan. Mulai musim 1999/2000, empat klub (dari negara-negara berkoefisien tertinggi) berhak mengikuti Liga Champions.

Kemudian, dua klub di bawah mereka, ditambah satu juara piala domestik, dan satu atau dua klub yang lolos via Piala Intertoto (kalau ada) menjadi peserta Piala UEFA.

Sejarah tentang ketamakan Liga Europa

Pada momen itulah kredibilitas Piala UEFA menjadi benar-benar jatuh dan penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah ketamakan UEFA sendiri.

Melihat uang yang didapat lewat Liga Champions semakin banyak — terutama sejak mereka melakukan rebranding terhadap Piala Eropa menjadi Liga Champions pada 1992 — UEFA pun terus menambah perserta kompetisi ini demi semakin banyaknya siaran televisi dan meningkatnya profit.

Di saat yang bersamaan, Piala UEFA yang sedari awal memang merupakan “anak angkat” pun makin telantar.

UEFA sendiri bukan tak sadar Piala UEFA makin kehilangan pamor.

Inilah alasan mereka melakukan rebranding terhadap kompetisi ini dengan memberinya nama Liga Europa pada 2009 lalu.

Selain memberikan lebih banyak kesempatan bagi tim-tim dari negara kecil (seiring dihapuskannya Piala Intertoto).

Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas kompetisi dalam sejarah Liga Europa

Berbagai upaya pun dilakukan untuk meningkatkan kualitas kompetisi, termasuk dengan memasukkan pecundang-pecundang Liga Champions (seperti dua finalis musim ini, Ajax dan Manchester United) ke dalamnya.

Namun, segala upaya yang dilakukan UEFA judi online QQMulia itu tak juga berhasil. Masih banyak tim-tim, terutama dari negara berkoefisien tinggi, yang menganggap kompetisi ini adalah kompetisi tidak berguna.

Seringkali, mereka memutuskan untuk memainkan tim kedua mereka untuk berlaga di Liga Europa. Maka dari itu, UEFA pun kemudian mengakali keengganan tim-tim ini dengan menambah satu insentif baru.

Mulai musim lalu, tim yang berhasil menjadi juara Liga Europa bakal mendapat jatah lolos otomatis ke Liga Champions tak peduli di peringkat berapa mereka finis di liganya masing-masing.

Sevilla musim lalu sudah melakukannya. Meski finis di peringkat ketujuh La Liga musim lalu, Sevilla berhak lolos langsung fase grup ke Liga Champions.

Manchester United pun mengincar hal yang sama musim ini. Sadar bahwa peluang di Premier League lebih berat, mereka pun memilih untuk berkonsentrasi di Liga Europa saja. Hasilnya, kini mereka berhasil masuk ke final, meski masih harus menghadapi Ajax yang muda dan energik.

Walau begitu, pengaruh insentif ini belum benar-benar bisa diukur. UEFA sendiri sudah kadung nyaman dengan format Liga Champions mereka dan rasanya tidak bakal mengutak-utiknya lagi.

Pertanyaannya, apabila semua ini tak juga mampu menolong Liga Europa, langkah seperti apa lagi yang bakal dilakukan UEFA?

Tentunya, sebagai salah satu organisasi paling tamak di dunia mereka tidak rela jika kompetisi yang awalnya berfungsi untuk mencari uang sebanyak ini justru kehilangan pamor.